Belajar Nyeni

Tulisan 4 Comments »

donMasih lekat dalam ingatan masa lalu, belajar musik Barat secara otodidak lewat teknik kupingan (cara mendengar). Terbilang sangat terlambat, karena aku baru genjrang-genjreng gitar waktu di kelas satu SMA. Terpaksa main gitar karena sekelas tidak ada yang bisa untuk ngiringi paduan suara antar kelas. Bermodal belajar dari nguping dan ngelihat tetangga main gitar, aku gunakan untuk manggung dengan sangat berani tanpa malu di depan penonton satu sekolah. Ajaib, aku hanya tahu sedikit krip gitar ternyata aku bisa karena kami punya kesempatan coba lagu yang akan ditampilkan. Sekarang kutahu kalau krip yang kumainkan itu disebut krip ”tiga jurus”.

Sebenarnya darah seni musik telah menempel pada diriku, karena ayahku almarhum seorang musisi kendang gamelan tari ternama di kota Solo pada waktu itu. Akupun mulai mencintai musik dari belajar gamelan lewat ekstra kurikuler di SMP 3 Solo. Walaupun begitu, sejak SD aku dan teman-teman sekelas adalah terkenal bikin onar karena kreativitas bikin hiburan yang konyol dengan tetabuhan di meja dan gamelan rongsok di gudang sekolah sewaktu istirahat. Teman-teman ternyata senang dengan gaya urakan nan menghibur dari kelompok kami. Sampai di sini aku sadar bahwa kepuasanku adalah untuk menghibur orang lewat jalur seni, jangan salah sangka kalau menghibur orang bisa lewat kegiatan lain seperti: jadi gigolo atau brondong.

Masa SMP aku lewati dengan hepi, ada kegiatan ekstra kurikuler karawitan yang menarik perhatianku. Berulang kali sekolahku jadi juara dalam perlombaan karawitan tingkat Kotamadya surakarta dan Eks karesidenan. Aku boleh bangga karena Solo dan sekitarnya kan pusat budaya karawitan terkenal? lagipula banyak jago dari berbagai pengrawit (musisi gamelan) dan kelompok karawitan (setingkat SMP) yang berpartisipasi. Pak Katiman adalah guru yang pandai dan tegas serta besar usahanya dalam mendidik para siswa. Meski gamelan yang biasa dipakai latihan dari besi, tapi dengan metode berlatih yang benar dapat menghasilkan tabuhan dan murid-murid yang bagus. Setiap akan latihan sore selepas sekolah, sering beliau tidur di ruang gamelan untuk ”laku prihatin”, demi menjaga hubungan batiniah antara kesuksesan misi yang diemban dengan roh gamelan beserta penyatuan suksma-suksma anak didiknya. Dari kegiatan karawitan ini pula aku berhasil mendapatkan beasiswa seni dari sekolah yang lumayan besar selama setahun.

Masa SMA telah merubah cita-citaku untuk jadi militer, maklum banyak saudara Ibuku yang berasal dari sana. Meski sudah aku bela-belain masuk program A2 (ilmu Biologi) untuk meraih syarat masuk AKMIL, akhirnya berbelok ke arah seni lagi. Ada temanku yang mengajak ikut kegiatan ekstra kurikuler teater di SMA 4 Solo. Sekali lagi dunia seni telah menambat jiwaku. Dengan teater Golek SMA-ku kami sering berhasil jadi juara di festival teater tingkat SMA. Aku tidak berbakat jadi aktor, aku merasa nyaman berada di barisan para pemusik. Saat itu aku sudah mulai mencipta ilustrasi teater dan membuat lagu dengan musik seadanya.

Nah, di pergaulan teater aku mulai kenal dengan banyak teman seniman berbagai bidang seperti: musik, seni rupa, sastra, dll. Musik keroncong juga mulai mengusik jiwaku, aku berkenalan dengan seseorang yang mengajak latihan di grupnya. Bahkan aku jadi anggota teater Gidag gidig juga membuat kreasi musik dengan alat keroncong. Dengan bermodal ngawur-ngawuran kami berani tampil di muka umum. Banyak yang mencemooh karena dari sisi musikal kami ”kurang  berpendidikan”, tapi banyak yang suka juga karena ’keliaran’ kami. Modal-modal seperti itu yang kami jadikan dasar untuk memupuk mental kami di atas panggung pertunjukan.

Contoh ’asal-asalanku (dan kami), di atas panggung langsung pakai alat musik yang belum pernah dilatih sebelumnya. Waktu pentas di Fakultas Hukum UNS saya menemukan bass betot di gudang musik mahasiswa, aku pelajari sebentar stemannya trus dibawa ke panggung langsung dipakai untuk main. Untuk urusan main biola juga gitu, aku hanya tanya stem senarnya, terus di rumah aku gambar sendiri tata jarinya. Pentas selanjutnya aku berani main biola walau hanya baru sebatas menghapal lagu dengan tata jari yang ’primitiv’. Lama-lama bisa meningkat cara mainnya. Setelah main atau di kala senggang aku melakukan introspeksi atas permainanku tadi, sering merasa malu dan tidak puas atas apa yang telah kukerjakan. Adakalanya analisis itu terjadi atas hasil rekaman kecil-kecilan yang kami buat, kami punya ras malu dan tidak puas meskipun unsur ’tabrak’ masih mendominasi jiwa muda dan kreativitas kami.

Sisi kehidupanku dalam bermusik didasari oleh pendidikan formal di kampus STSI (sekaran ISI Surakarta). Di lembaga ini aku mendapat gemblengan musik yang berdasar dari budaya musik tradisional (mayor Jawa). Aku bisa mensinergikan antara budaya Barat dengan Jawa sambil berproses secara intensif. Aku suka berdarah-darah mencari perbaikan kemampuanku bermusik dan menyerap pikiran para kreator yang sedang berproses denganku.

Aku bukanlah seorang penyanyi yang bisa naik daun secara drastis. Proses menjadi kesenimananku berjalan laksana gelombang yang penuh riak dan gejolak. Seorang musisi jarang mendapatkan keberuntungan secara sekejap, rata-rata terjadi secara gradual dan eskalatif bahkan cenderung evolutif..Nyatanya sampai sekarang aku belum mampu mendapatkan nama seperti yang sudah didapat oleh teman-temanku seangkatan atau adik-adik kelasku. Tapi justru aku bersyukur oleh itu, karena mawas diri harus selalu ada bersamaku. Banyak contoh suatu keberhasilan tidak diimbangi dengan mentalitas, komitmen yang bagus terhadap sesama pekerja seni atau seni itu sendiri. Aku tidak silau dengan dunia mereka, biarlah jalanku mengalir sesuai kehendak Yang Di Sana dengan usahaku sendiri yang tiada pernah berhenti. Aku menyadari jika caraku bermain musik (berkesenian) adalah jalan tidak biasa yang masih mengandalkan cara-cara lamaku, namun aku juga tidak menutup diri pada masukan orang lain dan perubahan dinamika seni.

Kini aku sudah banyak teman, relasi, kolega, murid, dan semuanya yang telah mempercayaiku utuk eksis di dunia seni. Tanpa mereka aku tidak bisa berbuat banyak. Tulisan ini tidak bermaksud nyombong, adigang, adigung, adiguna, ataupun mengecilkan peran orang yang berbeda dengan diriku. Mungkin aku hanya ingin mengajak kepada semua untuk melihat dunia seperti yang aku miliki ini agar jadi kaca kehidupan yang mungkin tidak terlalu bagus untuk semua orang.

Danis Sugiyanto

Pelajaran Lebaran Kedua

Tulisan 1 Comment »

Oleh: Danis Sugiyanto

======================= bb

Cerita  ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu di hari lebaran kedua. Ketika itu ada seseorang pimpinan grup karawitan yang biasa aku datangi latihan memintaku untuk bergabung jadi pengrawit (musisi Jawa) untuk  sebuah acara pegelaran wayang kulit purwa di sebuah desa lereng gunung Lawu bagian timur. Sudah aku katakan kepada beiau bahwa pada hari lebaran kedua  pasti aku selalu ada acara kumpul keluarga besar di Sentolo, dari Trah istriku. Tentu saja aku tidak bisa menyanggupi permintaannya.  Pembicaraan kami malam itu menghasilkan keputusan bahwa aku tidak bisa ikut pentas. Rupanya aku tidak tahu jika pakumpulan karawitan ini kekurangan pengrawit untuk acara tersebut, walaupun akhirnya mereka bisa  melaksanakan pentas itu dengan baik.

Beberapa hari menjelang lebaran tiba, teman akrab satu angkatan menelponku. Ia ‘menghiba’ untuk aku bersedia ikut rombongan karawitannya pada suatu acara pentas wayang di hari lebaran kedua. Pada mulanya aku menolak, sama seperti penolakanku terhadap kelompok pertama tadi. Tapi temanku itu tetap bersikeras  memohonku, katanya kalau boleh Ia akan bilang ke keluargaku untuk minta ijin demi ‘menyelamatkan’ janjinya kepada pihak penanggap. Daripada berlarut Ia mau minta ijin keluargaku yang lain, lebih baik aku saja yang berunding dengan istriku. Dalam hatiku sebenarnya ingin pilihmenjalani hidup sebagai seniman, daripada mengikuti acara keluarga yang santai namun formil itu. Aku berat hati melepas istriku yang nyopir sendiri dengan penumpang pakdhe, budhe, serta anakku. Rute Solo-Sentolo bukan pertama kali ia nyopir, tetapi karena kami sudah berkeluarga maka aku wajib menjadi pimpinan perjalanan yang padat pada suasana lebaran itu. Tetapi istri mengijinkanku untuk membantu temanku, karena Ia tahu hati suaminya. Baginya tiada guna berdebat denganku karena biasanya aku sudah punya jawaban sendiri, percuma diskusi mencari solusi.

Tiba saat keberangkatan aku dan pengrawit lain menunggu jemputan di pendopo Taman Budaya Surakarta. Setelah beberapa saat menunggu, aku bertanya dalam hati karena teman-teman pengrawit belum banyak yang datang berkumpul di tempat itu. Karena pikiran itu semakin menganggu, aku tanyakan ke teman yang ‘menyuruhku’. Jawabannya sungguh bikin aku ‘lemas’, ternyata kami sudah kumpul semua, tinggal menunggu jemputan dari rombongan besar yang akan pentas wayang ke desa di lereng Timur gunung Lawu. Kami hanya sebagian rombongan yang akan melengkapi suatu perkumpulan karawitan. Aku dapat kabar lagi kalau perkumpulan itu adalah perkumpulan yang pernah kuikuti dan sudah kuputuskan untuk tidak bisa mendukung kegiatan pentas di hari lebaran kedua.  Entah apa nanti jawab penjelasanku pada ketua perkumpulan akan masalah ini.

Bis pun datang dan kami segera berangkat, aku cari Pak Ketua perkumpulan karawitan di atas bis, ternyata beliau naik mobilnya sendiri. Untuk sementara aku bisa menenangkan diri selama perjalanan menuju lokasi pementasan. Daerah yang kami tuju melalui jalanan pegunungan yang terjal, meski pemandangan sangat indah tapi kami terganggu dengan jalannya bis yang tidak semestinya. Di tengah tanjakan yang curam, bis kami mogok. Dari kap mesin keluar bunyi yang sangat berisik, di sela-sela  tutupnya menyembur uap air yang panas. Kami terpaksa berhenti, crew terlihat sibuk mengatasi keadaan. Para penumpang mencari tempat di sekitar rumah penduduk untuk sekedar duduk-duduk istirahat. Saking lamanya kami menunggu bis diperbaiki, penghuni rumah rupanya kasihan melihat kami. Dengan sukarela penduduk menyuguh kami dengan buah-buahan segar langsung dari pohon di depan rumah. Di sekitar tempat itu banyak ditanam pohon jeruk yang manis, kami pesta jeruk sembari menunggu bis bisa jalan lagi.

Akhirnya bis bisa jalan lagi, dan sampailah kami di lokasi pentas. Tempat pentas kami adalah di sebuah rumah penduduk yang dibangun di tepi jurang yang lumayan dalam, pasti itu milik orang kaya. Sebelum pentas berlangsung aku bertemu dengan Pak Ketua karawitan, betapa hatiku tak enak untuk bertemu, tapi aku harus menjelaskan semua. Penjelasanku memang sepanjang tesis mahasiswa S2, untunglah beliau mengerti semuanya, aku lega sekali.

Tuan rumah menyuguhi kami aneka hidangan dan minuman the manis hangat, cocok untuk hawa pegunungan seperti saat itu. Aku melihat beberapa pengrawit yang terlibat untuk pentas kali ini adalah pengrawit handal di Kota Solo. Tercatat waktu itu rombongan membawa: 4 pemain kendang kenamaan, 3 pemain gender, 2 pemain rebab, semua 30 orang pengrawit popular di komunitas karawitan Surakarta. Karena tidak latihan sebelumnya, maka kami  bingung sendiri menentukan casting pengrawit, rata-rata kami ewuh pekewuh menduduki suatu instrumen tertentu. Akhirnya  aku dipasrahi main siter, karena kebetulan nggak ada yang berani tampil sebagai penyiter.

Pentas berhasil dengan sukses. Setelah pentas aku dikasih dua amplop, satu dari temanku yang mengajak dan satunya dari Pak ketua Karawitan. Yang terakhir aku tolak dengan halus karena itu memang bukan hak-ku, aku sadar posisi dan keadaanku waktu itu. Peristiwa di atas sampai sekarang masih membekas padaku, rasanya pahit dan kecut jika mengingatnya. Sejak saat itu aku tidak lagi mau ‘ngiringi’pertunjukan wayang professional, mungkin karena trauma dan ingin menenangkan diri (selamanya?).  Akhirnya peristiwa itu juga menjadi pelajaranku untuk tidak sembarangan menerima panggilan PY, untung waktu itu aku masih lugu dan apa adanya, tetapi yang musti harus aku pegang selamanya adalah: kejujuran dan menjunjung komitmen. Sekarang banyak seniman yang ‘ambruk’ namanya gara-gara kepercayaan para pengguna jasa menurun, mayoritas karena ulah seniman sendiri. Semoga aku masih bisa eksis dengan modal-modal di atas, amin.

Gentan, 8 Jan 2010

Menyusuri jalanan di New York

Foto-foto Pengalaman Diri Comments Off on Menyusuri jalanan di New York
Pak Harjito aku dan Pak Sumarsam

Pak Harjito aku dan Pak Sumarsam

Opera Diponegoro, NYC 2009

Foto-foto Pengalaman Diri Comments Off on Opera Diponegoro, NYC 2009
evakuasi gamelan KJRI NY-Asia Society

evakuasi gamelan KJRI NY-Asia Society

Wali Lima, musisi ‘Opera Diponegoro’, Sardono W Kusumo

Foto-foto Pengalaman Diri Comments Off on Wali Lima, musisi ‘Opera Diponegoro’, Sardono W Kusumo
Wali Lima, Opera Diponegoro-Saedono W kusumo

Wali Lima, musisi 'Opera Diponegoro' Sardono W kusumo

Gamelan di LAPAS Anak Jateng-DIY

Tulisan 2 Comments »

Tutor untuk para Napi Anak

Tutor untuk para Napi Anak

Wajah-wajah sangar dari penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Anak Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Kutoarjo sedikit demi sedikit pudar, ketika para tutor menyampaikan simulasi permainan musikal. Peristiwa ini terjadi di dalam ”penjara” khusus anak, yang mempunyai stigma buruk tentang kekerasan,  asosial, dan ”hukum rimba”. Kegiatan tersebut sebenarnya merupakan suatu bentuk kewajiban pengabdian pada masyarakat  bagi ISI Surakarta di dalam mengaktualisasikan kemampuan dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat selama pertengahan bulan Januari sampai dengan pertengahan Februari tahun 2009.

Dengan program semacam ini Mahasiswa mendapatkan pengalaman di lapangan yang belum pernah dialami di bangku kuliah. PKL pendampingan bagi dosen merupakan ajang untuk mengukur kemampuan kompetensi yang selama ini mereka peroleh dan juga karena adanya tuntutan-tuntutan yang berubah pada kompetensi di dalam masyarakat itu sendiri.

Pelatihan gamelan bagi Napi Anak ini adalah kegiatan yang memberi bantuan kepada masyarakat dalam hal apresiasi seni karawitan. Diharapkan akan tumbuh bentuk-bentuk penghargaan, rasa hormat kepada sesama manusia dan menghormati kesenian itu sendiri.

Harapan lain dari kegiatan ini adalah memberikan terapi psikologis dengan pendekatan seni budaya (pengendalian kenakalan anak, melatih kepekaan seni/sensing, penghalusan budi, mengekang sifat egoisme/individualistik, pendidikan kebersamaan dan toleransi) bagi narapidana anak-anak. PKL ini juga bertujuan sebagai terapi ice breaking, yaitu memecah kebuntuan dari kekerasan  watak anak-anak yang selama ini hidupnya terasing dari masyarakat.

Gamelan dipilih sebagai media memecahkan permasalahan psikologis Napi Anak, karena gamelan memuat nilai-nilai komunikasi dan interaksi musikal yang ujung-ujungnya dapat memperhalus budi manusia,  sehingga dapat merubah perilaku negatif yang telah lama mereka sandang. Organisasi musikal dalam gamelan telah mengandung berbagai pakem, aturan, dan nilai budaya yang membiasakan para peserta pelatihan (Napi) lebih mementingkan rasa daripada berbuat indivudualistik. Media seni lain sebenarnya juga mempunyai potensi yang sama sebagai sarana pendidikan mental seperti di atas, tetapi gamelan mempunyai keunikan tersendiri meski tidak harus terjebak pada romantisme feodalistik.

Menurut Kepala LP yang dibenarkan beberapa sipir dan pegawai Lapas, setelah para napi diberikan treatment terlihat penguasaan emosinya lebih stabil. Sebelum diberi perlakuan lewat pendidikan gamelan, mereka masih membawa perilaku sesuai stigma buruk oleh masyarakat (walaupun di bawah pengawasan institusi LP). Terlihat nyata di waktu pelatihan, ”anak-anak didik” akrab menyatu dengan para tutor yang terdiri dari dosen, alumni, dan mahasiswa ISI Surakarta: I Wayan Sadra, S.Kar., M.Sn.., Sukamso, S.Kar., M.Hum., Darno, S.Sen., M.Sn., Danis Sugiyanto, S.Sn., M.Hum., Dwi Pasetyo, Sugiyanto, S.Sn, Sigit Setyawan, dan Agus Prasetyo.

Materi-materi pelatihan apresiasi seni karawitan dibuat untuk tidak menyulitkan para peserta, yang diutamakan adalah efek rasa senang mengikuti kegiatan tanpa dihalangi tembok tinggi yang bernama ”gamelan” yang mereka anggap kuno, musiknya orang tua, bikin ngantuk, mboseni, dsb. Suatu saat para peserta diajak memainkan musik ”sesuatu” tanpa terikat beban kultur tertentu, di samping setiap harinya mereka telah diajarkan bermain gamelan secara konvensional oleh para tutor.

Sampai minggu terakhir pelatihan, para peseta didik terlihat lebih santai. Pada raut-raut wajahnya tidak nampak lagi sangar, sangat santai, bahkan diantara mereka sering bercanda jika ada teman salah dalam menyajikan suatu repertoar gending tradisi dalam gamelan atau keliru melaksanakan penjelasan tutor. Akibat lain yang timbul, anak didik tampak seperti ”orang gila”. Ketika di dalam sel-nya mereka senang nembang, atau menirukan gamelan dengan suara mulutnya. Tetapi semuanya tidak menganggu lingkungan sesama penghuni LP, justru menambah keakraban sesama napi.

Napi-napi anak tidak akan disiapkan menjadi seniman, meski banyak dari mereka yang mempunyai bakat seni yang bagus. Kemajemukan latar belakang mereka menjadikan proses pelatihan dan apresiasi seni semakin dinamis. Para Tutor tidak memaksa anak-anak bertindak ketat sesuai arahan, asal mereka kreatif dan enjoy cukup menjadikan pelatihan sesuai misi dan visinya.

Awal mula peserta didik dibagi beberapa kelas sesuai kasus hukumannya sehingga mereka menghuni Lapas. Penyebab mereka masuk LP ada yang terlibat kasus pencurian, pemerkosaan, pelecehan seksual, penipuan, pembunuhan, dan lain-lain, tetapi akhirnya anggota kelas terdiri dari berbagai kasus kriminal. Hal ini untuk menghindari teknis pembagian yang sulit, karena bisa terjadi satu kelas berisi sedikit peserta didik atau bisa terjadi terlalu banyak.

Para peserta didik dijumpai ada yang nir laras dan nir irama (kurang sensitivitas musikalnya), hal itu tidak menjadi masalah. Misi pendidikan yang diemban adalah memberi bekal kepada mereka untuk bisa terjun berbaur di masyarakat nanti setelah keluar dari LP tanpa rasa rendah diri. Penanganan kepada Napi anak yang menyandang hal tersebut adalah dengan penguatan rasa percaya diri, nilai ini juga terdapat di dalam budaya gamelan. Sedangkan untuk Napi anak yang agresif, diarahkan menjadi pemimpin yang dapat mendorong motivasi temannya. Gamelan juga telah menyediakan nilai positif bagi orang mempunyai karakter seperti itu, napi diminta menyajikan ricikan kendang sebagai pemimpin musikal (ritme dan dinamika) gamelan

Program yang dibangun dan dilaksanakan oleh departemen terkait dan Perguruan tinggi seni ini sangat mulia. Agaknya persiapan yang kurang matang menjadikan kegiatan ini belum optimal. Waktu pembinaan mental lewat pendidikan gamelan yang relative pendek menjadikan sasaran dan kesinambungan belum terjaga. Apapun hasilnya, salut kepada semua pihak yang telah mewujudkan program kemanusiaan ini. Gamelan disamping menjadi sarana ritual kontemplatif ataupun digunakan sebagai presentasi estetis, dapat juga menjadi terapi jiwa dan pengasah budi bagi manusia.

Danis Sugiyanto: Dosen ISI Surakarta, Tutor Gamelan untuk LAPAS Anak Kutoarjo

I Lagaligo at Milano Italy, Feb 2007

Foto-foto Pengalaman Diri Comments Off on I Lagaligo at Milano Italy, Feb 2007
I Lagaligo tour at Milan, Italy 2007

I Lagaligo tour at Milan, Italy 2007

Ujian Tesis

Foto-foto Pengalaman Diri Comments Off on Ujian Tesis
Para Guru Besarku di UGM, ujian tesis S2 ttahun 2003

Para Guru Besarku di UGM, ujian tesis S2 ttahun 2003

Keroncong dalam Pemikiran dan Perenungan

Tulisan 4 Comments »

adik-adik Unit Kegiatan Mahasiswa Keroncong ISI Surakarta, 2009

adik-adik Unit Kegiatan Mahasiswa Keroncong ISI Surakarta, 2009

Oleh: Danis Sugiyanto

Menurut pengertian masyarakat (baik umum maupun sebagai kajian seni di kalangan akademis), ditemukan berbagai arti mengenai kata keroncong. Arti keroncong tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Untuk menyebut gelang yang dipakai sebagai pelengkap pada busana khas rakyat  Madura (Jawa Timur).
  2. Secara onomatopis dari bunyi instrumen ukulele yaitu “crong…crong….crong”, yang konon berkembang menjadi kata/istilah asal muasal (musik) “keroncong”.
  3. Untuk menunjuk/menyebut suatu ansambel musik yang memainkan repertoar tertentu menurut aturan/pakem-nya. Adapun alat musiknya terdiri dari: piul (violin), seruling (flute), gitar, cuk (ukulele), cak (banyo), cello, dan bas (contra bass). Batasan ini hanya berlaku bagi ansambel keroncong yang biasa kita lihat secara umum pada masa kini, tidak membatasi ansambel keroncong yang lain (pada ansambel “Keroncong Tugu” tidak terdapat flute, tetapi digunakan alat semacam rebana, dan istilah instrumen cuk adalah prounga dan cak untuk machina, serta jitera untuk menyebut instrumen gitar).
  4. Untuk mengidentifikasi adanya suatu irama (beat) tertentu (masyarakat menyebutnya “irama keroncong”).
  5. Sebagai salah satu bentuk lagu dalam musik keroncong (bentuk yang lain adalah: stambul 1, stambul 2, langgam keroncong, langgam Jawa, dan berbagai bentuk lagu yang khusus).

Musik keroncong yang tumbuh dan berkembang seperti sekarang tentu telah melalui sejarah musiknya yang panjang. Berbagai referensi menyebutkan bahwa ansambel ini datang dari pengaruh kuat bangsa Barat (Portugis). Konon cikal bakal musik keroncong berasal dari kampung Tugu di Batavia pada abad ke-17. Semula musik ini terbentuk dari kegiatan berkumpul para penduduk Tugu selepas berburu atau bertani dengan bernyanyi untuk menghibur diri, lalu terbentuk komunitas-komunitas musik yang beraktifitas di rumah atau acara penduduk. Lama-kelamaan musik ini menjelma menjadi hiburan di pinggiran kota Batavia dan meluas perkembangannya sampai di kota-kota pulau Jawa dan nusantara. Kepopulerannya membawa musik ini menjadi hiburan elit bagi acara-acara peranakan Indo, bangsawan, saudagar-saudagar Cina, serta pribumi kaya pada dekade awal abad ke-20.

Sentuhan lokal membawa musik keroncong mengalami kekayaan musikal.

Indikasi ini terlihat pada perkembangan pola-pola tabuhan (permainan) yang mengadopsi budaya musik setempat seperti: ketuk tilu/jaipongan Sunda, gambang kromong Betawi, gambang Semarang, Tanjidor, gamelan Jawa, musik-musik Indonesia Timur (Maluku, Flores, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua), serta budaya musik lainnya (musik Sumatra, Melayu Deli, Minang, dan Batak).

Musik keroncong pernah mengalami masa emas ‘kejayaan” pada abad ke-20

ketika mulai munculnya komedi stambul dan ilustrasi musik film, masa kemerdekaan sampai dekade tahun 80-an. Banyak komponis terlahir dalam abad tersebut. Musik keroncong mengalami perkembangan luar biasa dalam segi instrumentasi dan orkestrasi, sampai sekarang. Banyak arranger dan musisi keroncong (serta musik di luar keroncong) yang telah berkreasi dengan jenis musik ini. Kebanyakan dari mereka masih mengacu konsep-konsep musikologis dari Barat. Musik keroncong telah diakses dan tereksplorasi menjadi bahan dasar kreatif dalam bermusik.

Penelitian-penelitian tentang musik keroncong masih jarang dilakukan, kuantitas dan kualitasnya jauh dari bidang ilmu/musik yang lain (terutama tradisi budaya musik gamelan/karawitan, ataupun ilmu-ilmu sosial). Agaknya benar pendapat peneliti musik (antropolog, musikolog Barat, ataupun etnomusikolog) terdahulu, bahwa musik keroncong dianggap musik yang kurang bernilai secara musikologis Barat.

Pendapat di atas boleh saja ditentang (terutama oleh pemerhati keroncong fanatik), atau bahkan bisa diamini kebenarannya. Pendapat yang menganggap keroncong “tiada bernilai”, berdampak pada pelecehan bagi selera/kesenangan masyarakat penggemar/pelaku musik keroncong, bahkan lebih jauh telah mengusik rasa nasionalisme. Sampai pada masalah ini lalu timbul pertanyaan, “Masihkah dibutuhkan eksistensi musik keroncong saat sekarang?”. Dengan kearifan, marilah kita menengok sejarah musik keroncong dari zaman masuknya genre musik ini ke Tanah Air sampai dengan perkembangannya pada masa kini yang telah menjadi ikon musik pemersatu Indonesia (konon keroncong adalah musik Indonesia). Apakah stigma itu masih melekat hingga kini? Mengapa di Indonesia masih sedikit yang mengembangkan keroncong, dilihat dari perspektif “musik baru”?

Keroncong masih dibutuhkan masyarakat?

Sejarah musik keroncong amat panjang, bahkan pernah mencapai masa emasnya. Mungkin kiasan yang tepat untuk keberadaan musik keroncong pada masa kini adalah.”Hidup segan, mati tak mau”. Kiasan ini serasi dengan keadaan para kreator, musisi, penggemar, atau badan pengayom keroncong yang setengah hati bersinergi dengan musik ini.

Bagi para kreator musik keroncong, nyata benar bahwa mereka hidup dari musik keroncong tetapi tidak semuanya dapat “menghidupi” keroncong. Musik ini telah dijadikan teman bekerja, tetapi masih sedikit usaha yang progresif untuk memikirkan keroncong menjadi musik yang mempunyai jatidiri. Para musisi juga sebagian besar narima jadi pendukung demi uang, daripada bersusah payah berbuat (dan juga berpikir) mulia agar posisi keroncong menjadi lebih bermartabat di mata masyarakat. Hal ini diperparah dengan organisasi-organisasi keroncong ataupun instansi pemerintah yang kompeten. Mereka turut andil dan memberikan jalan yang seringkali salah arah. Keroncong memang multifungsi dalam masyarakat, tetapi tidak hanya cukup dengan pendekatan ekonomis, kapital, turistik dan kekuasaan politik ataupun birokratis yang justru mengantar keroncong kepada jurang keterpurukan

Faktanya keroncong masih didayagunakan oleh masyarakat. Masih ada orang ‘punya kerja’ yang menggunkan jasa hiburan musik ini. Masih ada seniman-seniman yang melayani permintaan pentas (tanggapan). Grup-grup keroncong masih dijumpai dipelosok kampung perkotaan ataupun di desa-desa melakukan latihan dengan frekwensi masing-masing sesuai kemampuannya. Di dalam latihan grup-grup tersebut masih dijumpai pula penggemar yang sekedar datang melihat dan mendengar, mereka bukan seniman tetapi masyarakat biasa yang terlanjur cinta dengan keroncong. Adakalanya semangat mereka untuk dekat dengan keroncong melebihi senimannya sendiri. Penggemar-penggemar itu malahan ada yang mengkoleksi puluhan kaset keroncong, bahkan ada situs ’dunia maya’ (cyber, internet) yang khusus bagi pemerhati musik keroncong. Kadang mereka tidak ingin jadi seniman professional, tetapi sekedar menghibur diri dan mencari pergaulan dengan insan-insan keroncong. Juga dijumpai penggemar-penggemar itu intervensi pada struktur kepengurusan grup yang turut andil menentukan arah dan tujuan grup keroncong.

Kebanyakan lagu-lagu dalam musik keroncong mengajak masyarakat keroncong untuk menikmati kegembiraan (hiburan bagi pribadi ataupun kelompok kecil seperti awal mula tumbuhnya musik ini). Musik ini seiring dengan perkembangan zaman telah menjadi seni pertunjukan sebagai sarana presentasi estetik. Fenomena perkembangan selanjutnya menjadikan musik ini sebagai sarana religi (seperti untuk misa ataupun lagu pujian yang diiringi musik keroncong). Jenis seni musik ini dapat digolongkan sebagai seni rakyat yang merupakan seni little tradition, seperti seni lain yang mengandung unsur kerakyatan (tanpa aturan ketat, bebas berkekspresi, guyub dan gotong royong). Di sisi lain musik keroncong dapat pula diatur ketat sesuai kehendak patron yang kuat (pemimpin, tokoh keroncong, pelatih, arranger, dll.). Musik Barat menyediakan banyak aturan secara musikologis yang dapat menjadikan keroncong tampil dengan baju yang lain. Namun ketatnya  aturan-aturan tersebut akan tergantung pada pelaksanaannya (insan-insan pada komunitas keroncong).

Keroncong Sebagai Materi Kreatif Penciptaan Seni

Isu dunia seni pertunjukan dunia pada saat ini adalah getol mengangkat lokalitas sebagai andalan karya-karya seni. Gejala tersebut merupakan pilihan pembanding dari mainstream seni-seni pertunjukan yang mengandalkan isu modernitas dengan bantuan teknologi dan pengaruh dunia global. Apakah musik keroncong sebagai produk lokal dapat berbicara di persaingan seni pertunjukan dunia?

Bangsa Indonesia memiliki beragam kekayaan budaya yang banyak diantaranya telah diangkat menjadi pertunjukan kelas dunia. Menurut pengalaman, penulis telah berpartisipasi dalam banyak event pertunjukan skala nasional dan internasional. Yang patut dicatat adalah pada tahun 1997 penulis telah berhasil membawa unsur keroncong dalam pertunjukan “King Lear” oleh teater Works Singapore. Materi musik teater tersebut menampilkan kolaborasi berbagai budaya (musik) di Asia seperti; Indonesia (gamelan Jawa, Minangkabau, dan keroncong), Jepang (tradisi instrument Biwa), China (opera Beijing), Thailand (tari istana, nyanyian khas lullaby), Malaysia. Proyek teater multikultur tersebut didanai oleh Japan Foundation, dan telah dipertunjukan di Jepang, Hongkong, Jakarta, Perth, Berlin, Copenhagen, dan Singapore.

Meski (penulis) hanya sekrup kecil dalam proyek seni tersebut, namun keroncong telah berusaha mendekat kepada dunia yang lebih luas. Saat sekarang telah banyak seniman yang menggandeng musik keroncong sebagai ide dasar penciptaan karya seni mereka, diantaranya adalah; composer Jepang Celia Dunkelman mengangkat lagu “Bengawan Solo” karya Gesang sebagai ide komposisi musiknya,  musik fashion show desainer kondang Anne Avantie “Aku, Wanita dan Kebaya” yang menggunakan keroncong sebagai ilustrasi musiknya, kolaborasi antara keroncong dengan musik calung Banyumas “Conglung”, ataupun karya-karya seni tugas akhir mahasiswa pascasarjana S2 ISI Surakarta yang telah mengolah musik keroncong dengan musik etnik yang lain. Tetapi sayang, insan-insan keroncong masih sedikit yang berkreasi membuat musik-musik baru dengan dasar musik keroncong. Sebagian besar kreativitas masih berkutat pada pengembangan kekaryaan yang berorientasi pada kerja aransir lagu-lagu yang sudah ada di masyarakat keroncong.

Orientasi kreativitas mengaransir lagu memang bukan kerja seni yang sia-sia, tetapi harus dilandasi konsep kekaryaan yang menawarkan kesegaran norma-norma baru berupa nilai-nilai musik, kaedah,  cara pandang terhadap medium, ekspresi idealisme bermusik, jati diri penciptaan karya seni, dan lain-lain. Dalam berbagai praktek keroncong masih banyak dijumpai kreasi yang mengekor pada kaset rekaman dan aransemen lama (ketinggalan zaman).

Jatidiri Keroncong

Dilihat dari keunikannya, musik keroncong bisa dikatakan unik dan eksotik. Musik ini tidak dijumpai dimanapun sebagai musik yang genuine (asli) kecuali di Indonesia. Keberadaan kroncong di Malaysia ataupun Negara lain (yang mungkin ada) hanya merupakan pengaruh dari insan-insan keroncong Indonesia yang menetap atau dipanggil untuk mengajar musik keroncong di sana. Akan tetapi dilihat dari sudut pandang ‘Barat’, sungguh seakan kita ketinggalan ratusan tahun dalam sejarah musik. Keroncong akan semakin ketinggalan ketika pengembangan selalu melihat ke arah budaya Barat  (terutama musikologisnya). Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dasar musik ini berpijak pada budaya musik Barat, tetapi harus ada sudut pandang pengembangan yang lain. Biasanya orang Timur yang ingin ‘maju’ harus menengok ‘Barat’. Karena seperti diketahui jamak bahwa di dunia Barat lebih disediakan kehidupan yang berpola modern, sedang di Timur relative tertinggal.

Dunia Barat juga sering melihat Timur sebagai dunia eksotis yang menyediakan beragam sumber dasar seni. Karya-karya budaya Barat banyak terinspirasi dari budaya Timur, baik seni yang kontemporer, eksperimen, world music, ataupun avant garde. Akankah insan keroncong sebagai orang dari budaya Timur sudah mulai melihat dan melakukan pengembangan seni (keroncong) dari sudut tolak budaya Timur juga? Kemungkinan ini bisa terjadi, dan menimbulkan peluang diliriknya seni-seni atau seniman-seniman Indonesia oleh dunia global. Kompetensi hasil seni masa kini dan kreator seninya (seniman) Indonesia semakin maju. Salah satu contohnya adalah seniman musik Rahayu Supanggah. Beliau membuka mata dan telinga dunia dengan konsep dan cara berkesenian sebagai orang Timur yang tetap memandang ke Timur. Inilah mungkin cara jitu seni (keroncong) Indonesia dalam menunjukan jatidirinya, serta dapat sejajar dengan seni-seni dunia yang lain.

KEPUSTAKAAN

Rustika Herlambang

2008    “Rahayu Supanggah dari Solo ke pentas dunia”, majalah fashion Dewi, edisi Agustus 2008.

Mack, Dieter.

1995    Sejarah Musik Jilid IV.Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

Raffles, Thomas

1978 History of Java with an Introduction by John Bastin Vol 2. Kualalumpur: Oxford University Press

Rahayu Supanggah

2001    “Kolaborasi: Kisah Sebuah Pengalaman”, dalam jurnal Kêtêg volume 1 no. 1 Nopember 2001

2002        Bothèkan Karawitan I. Jakarta: Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia.

2007        “Ketika Seorang Seniman Beretnomusikologi”, makalah Simposium Nasional Pengembangan Ilmu Budaya: Membumikan Etnomusikologi Indonesia. ISI Surakarta 2007

2007    Bothèkan Karawitan II: Garap. Surakarta: ISI Surakarta

Yusi A. Pareanom

2005    “I Lagaligo”, buku pementasan Robert Wilson di Teater Tanah Air Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tanggal 10-12 Desember 2005.

Konsep Musik Rahayu Supanggah: Sebuah Pengamatan pada Projek Teater ”I Lagaligo”

Tulisan Comments Off on Konsep Musik Rahayu Supanggah: Sebuah Pengamatan pada Projek Teater ”I Lagaligo”

Oleh: Danis Sugiyanto

Rahayu Supanggah, aku, dan Iwan (aktor ILG) di Castillo Plaza Milano, Italy 2007

Rahayu Supanggah, aku, dan Iwan (aktor ILG) di Castillo Plaza Milano, Italy 2007

Masyarakat di luar budaya Sulawesi banyak yang belum mengenal I La Galigo (ILG), apalagi nama itu kemudian dikaitkan dengan sebuah seni pertunjukan teater Avant Garde berskala Internasional. Suku-suku di Sulawesi telah lama mewarisi Sureq Galigo[1] yang telah berkembang sebagai tradisi oral di seluruh Sulawesi serta masih dikenal dan dihormati hingga saat ini. Di Indonesia, Asia atau bahkan dunia, orang lebih mengenal Epos-epos seperti: Ramayana karya Walmiki, Mahabharata karya Mpu Wiyasa atau Odyssey karya Homerus.[2] Panjang epos ILG melebihi Mahabharata sementara kisah petulangan tokoh utamanya tak kalah dengan Odyssey.

Berbagai ilmu yang menakjubkan terdapat dalam sureq ILG, diantaranya menjelaskan kosmologi tentang kehidupan Bugis kuno yang masih hidup dalam; musik, adat-istiadat, arsitektur dan ritual masyarakat Bugis selama ratusan tahun. Sureq Galigo yang ditulis sekitar abad ke-14 ini terdapat berbagai khazanah mitologi yang masih dipegang oleh masyarakat Bugis. Di dalamnya dapat ditemukan kisah asal-usul manusia, upacara tradisonal[3], sampai ilmu pelayaran dan kelautan. Akan tetapi sejak masuknya agama Islam, serta berkurangnya pengetahuan dan penghayatan terhadap budaya lama oleh masyarakat Sulawesi, maka secara berangsur-angsur membuat sureq ini makin terdesak. Saat sekarang tinggal sedikit orang yang dapat membaca naskah ini dalam bahasa aslinya.

Oleh karena kedalaman nilai epos ILG, yayasan Change Perfoming Arts (CPA) yang berbasis di Milan, Italy bersedia memproduksi epos ini menjadi suatu pertunjukan seni teater-musik kelas dunia. Maha karya ini didukung oleh yayasan Bali Purnati dengan sutradara teater eksperimental Internasional, Robert Wilson dari Amerika Serikat. ILG diprakarsai oleh Rhoda Grauer, produser dan pembuat film dokumenter asal Amerika Serikat serta Restu Imansari Kusumaningrum, seorang networker seni dari Indonesia.

Apa ILG itu? Siapa saja yang terlibat dalam produksi teater musik ILG? Bagaimana teater musik ILG dapat dipentaskan? Apa saja konsep musik teater dalam produksi ILG dan pandangan sang pengarah musik? Semua pertanyaan ini tidak mudah dijawab dan dijelaskan, akan tetapi dengan studi pustaka dan wawancara dengan tokoh-tokoh yang terlibat ILG, penulis berusaha untuk menyajikan informasi dan analisis berdasar data yang dihimpun secara komprehensif. Diharapkan tulisan ini akan berguna kepada para pembaca yang budiman terhadap pemahaman sesuai topik dan judul yang penulis pilih.

Sureq Galigo

ILG adalah karya teater musik yang terinspirasi Sureq Galigo dari Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis adalah satu-satunya kelompok budaya yang menerapkan syair-syair kepahlawanan ini dalam bentuk tulisan. Sureq Galigo yang awalnya merupakan kitab berisi syair-syair kepahlawanan kuno telah berkembang menjadi tradisi oral Sulawesi Selatan. Kepercayaan pada tradisi tersebut masih dikenal dan dihormati sampai kini oleh masyarakat, khususnya bagi para penganut. Bagi banyak orang, berbagai kejadian dalam Sureq ini dianggap sebagai sejarah yang sebenarnya. Hingga saat ini keluarga-keluarga bangsawan masih menelusurkan silsilah nenek moyang mereka sebagai keturunan bangsawan “berdarah putih” dari Galigo, idealnya sebagai keturunan pahalawan utama yang bernama Sawérigading. Jika sureq ini banyak bercerita tentang Sawérigading, mengapa namanya bukan Sureq Sawérigading? Bagi masyarakat Bugis kuno, nama Sawérigading harus disebut dengan hormat tidak boleh sembarangan. Sangat masuk akal apabila mereka tidak berani meletakkan nama tokoh ini sebagai nama sureq.

Sureq Galigo diperkirakan ditulis pad abad ke-–14 sampai 17.[4] Susastra monumental ini bertutur tentang kosmologi, theogoni (system kedewaan), dan mitologi asal-usul raja Bugis. Sureq ini ditulis dalam aksara dan bahasa Galigo.[5] Tidak diketahui secara pasti siapa yang menulis sureq ini. Tokoh kolonial Inggris, T.S Raffles dalam buku The History Of Java (1978) mengusulkan  bahwa judul sureq itu adalah nama penulisnya atas “desakan” akademisi John Leyden. Akan tetapi ide tersebut tidak dianut lagi oleh para ilmuwan. I La Galigo dan La Galigo sering disamakan karena bisa mengacu sama baiknya pada cerita secara umum. Mitos kuno ini sudah ditulis oleh banyak orang, terdapat berbagai versi meskipun sama-sama menggunakan penulisan I La Galigo, alhasil banyak varian naskah yang mengkisahkan tentang suatu episode tertentu. Akan tetapi kesemuanya menggunakan rujukan cerita utama yaitu petualangan Sawérigading. Ibarat sebatang pohon besar, sureq ini mempunyai akar, batang, cabang, ranting dan dedaunan, karena banyak penulis dan versinya. Cara tutur dalam Sureq yang sangat detil membeberkan upacara ritual, pernak-pernik motif kain, diduga ditulis oleh kalangan wanita bangsawan Bugis atau para Bissu,[6] karena aspek pelayaran sangat lemah porsi pembicaraannya. Naskah-naskah sureq Galigo belum pernah dikumpulkan dalam satu versi resmi yang diterima secara umum, arti filosofis naskah-naskah ini juga belum ditelaah secara mendalam. Sebagian manuskrip kini tersimpan di Leiden, Belanda, dan koleksi pribadi keturunan bangsawan Bugis di Sulawesi selatan.

Usaha untuk menterjemahkan bahasa Sureq Galigo ke dalam bahasa universal sudah dilakukan. Dimulai dari penemuan penting hasil penelitian dan pemeliharaan naskah ini oleh Arung Pancantoa, seorang bangsawan putri Bugis pada paruh akhir pertengahan abad ke-19. Ia bekerja sama dengan BF Matthes, utusan dari Nederlandsch Bijbelgenootschaapp/NBG (Dutch Bible Society) mengumpulkan sejumlah manuskrip La Galigo di sepanjang belahan selatan Celebes. Selama kira-kira 10 tahun, Arung menyunting dan berhasil menulisnya untuk Matthes sebanyak 12 jilid. Tulisan itu kini tersimpan di perpustakaan Unversitas Leiden Belanda dengan identitas NBG 188.[7] Pada tahun 1987 ilmuwan Bugis yang bernama Mohammad Salim terpilih menjadi orang yang bertugas menterjemahkan bahasa naskah ini ke dalam bahasa Indonesia lewat Proyek kebudayaan Indonesia Belanda.  Pada tahun 1993 naskah itu selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan 2 jilid awal naskah ini sudah diterbitkan.[8] Mohammad Salim adalah sarjana Bugis dan termasuk orang langka yang ahli membaca dan mengartikan Sureq Galigo.

Musik I LAGALIGO

Membangun sebuah pertunjukan teater tentu dibutuhkan beberapa aspek artistik seperti: musik, lampu, property, setting panggung, naskah, pemeran, rias, busana, dan lain-lain. Masing-masing bidang tersebut mempunyai cara tersendiri untuk mewujudkan impian dan kehendak sutradara.

Seksi musik membuat rencana (konsep) dan mengadakan langkah-langkah kerja sebelum menjadi sebuah penunjang pertunjukan. Audisi pemain (aktor/aktris, penari, serta crew artistik) dan musisi, serta workshop diadakan di BPAC.  Setelah hasil audisi musisi disepakati, penanggung jawab musik dan sutradara terlebih dahulu melakukan penelitian di daerah asal epik tersebut. Riset diperlukan untuk menggali kembali musik-musik yang mungkin sudah punah atau tidak pernah lagi digunakan pada kehidupan masyarakat setempat. Dari riset dipilih repertoar musik atau lagu-lagu yang menarik untuk digunakan sebagai musik pertunjukan ILG.

Secara garis besar musik ILG didasarkan atas kerja: revitalisasi musik tradisi, reinterpretasi tradisi, dan kreasi baru. Revitalisasi adalah usaha untuk menggali, mengembalikan fungsi sebuah genre/repertoar/lagu, dan mewujudkannya kembali musik menurut kodrat masa lalu yang relevan dengan masa kini (dalam konteks pertunjukan). Reinterpretasi tradisi dimaksudkan untuk menambah daya eksistensi yang melekat pada suatu tradisi musik dengan memberikan sumbangan pemikiran lewat tafsir/pemaknaan dan nilai baru agar lebih menarik dan bernilai. Langkah ini dapat ditempuh dengan cara mengaransemen musik, menambah daya atau mengurangi materi tanpa meninggalkan esensi. Hasil reinterprestasi tersebut masih terlihat benang merah dengan tradisi, materi-materi masih dapat dilacak sumbernya dengan sangat jelas meskipun digarap dengan citarasa baru. Adapun kreasi baru adalah bentuk kreativitas komposer dan pikiran pengarah musik ILG berdasar rangsangan dari apa, mana, atau siapapun. Kreasi dalam konteks pendukung pertunjukan adalah untuk memperkuat adegan per adegan, pesan dari naskah, atau kepentingan sutradara maupun sang pengarah musik.  Hasil kreasi baru dalam musik ILG dapat bersumber dari budaya musik Sulawesi atau ciri khas penciptaan seni oleh sutradara dan pengarah musik (music director) yang didukung oleh sumber daya para musisi yang berasal dari berbagai latar belakang budaya musik. Titik keberangkatan penciptaan musik ILG berasal dari unsur musik tradisional rakyat Sulawesi, terutama suku Bugis. Dialog intensif terjadi antara sutradara, pengarang naskah pertunjukan, pengarah musik, koreografer, para musisi atau melibatkan budayawan yang terkait. Proses ini bertujuan menemukan titik temu dengan azas saling menghormati budaya dalam mengakomodasikan berbagai ide (kolaborasi). Pengarah musik mempunyai metode konseptual yang bersifat kolaboratif baik yang berhubungan dengan hal-hal praktis (teknik) ataupun dalam skala lebih luas (pendekatan budaya) dalam membangun musik ILG.

Telah berabad-abad yang lalu, Sulawesi menjadi persimpangan perdagangan, perjalanan dan pertemuan antar bangsa (Internasional). Empat kelompok etnik utama daerah tersebut (Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja) telah mempunyai budaya (musik) khas sebagai hasil dari interaksi antar bangsa dengan tetap berpedoman pada budaya mereka sendiri. Budaya dan seni mereka adalah hasil dari koeksistensi harmonis dari banyak sistem kepercayaan termasuk animisme, dan agama-agama mayoritas di dunia. Pencapaian di luar batas musikal orang Bugis dan Sulawesi yang jauh rentangnya agaknya hampir sama dengan semangat perjalanan epik tersebut. Musik ILG mampu menembus batas budaya lokalitas sesuai kemajemukan budaya musik Sulawesi yang merupakan hasil dari berbagai proses akulturasi antar etnis di dunia, meskipun suku Bugis yang berbasis di Luwuq (istana kuno suku Bugis) kelihatan memiliki sekian banyak karakter utama dalam semesta epik ini.

Pertimbangan utama dalam menyatukan ansambel musik ILG adalah bekerja dengan alat musik tradisional dari berbagai wilayah di nusantara dan benua Asia, diperkuat dengan alat-alat musik yang secara khusus dibuat ‘baru’ (sebagai misal: untuk kepentingan pemberdayaan suatu adegan). Alat-alat musik ILG dapat diidentifikasi sebagai berikut:

–          Membranophon, jenis kelompok alat musik drum (gendang) seperti; ganrang atau gendang pakarena, berbagai macam bedug masjid, gendang Toraja, Kendang lanang dan wadon Bali, kendang Jawa Tengah, rapai, serta gendang Minangkabau.

–          Idiophon, jenis kelompok alat musik perkusi seperti: kato-kato (drum belah), canang (gong horizontal dan vertikal), kancing (seperti cymbal), lea-lea atau parappasa (bambu belah).

–          Aerophon, jenis alat tiup seperti; pui-pui (semacam terompet yang memakai rit dari bambu atau lidah sebagai pengolah bunyi), basing, suling dengkong-dengkong, alat tiup berbagai ukuran dari berbagai daerah.

–          Alat musik gesek atau berdawai, seperti; kesok-kesok (alat musik gesek dua senar), alat musik betot (petik) kacapi dua senar.

Alat-alat musik tersebut merupakan “milik” budaya musik nusantara. Kebutuhan musik ILG juga dipersedap dengan alat-alat musik luar Sulawesi yang bertujuan untuk menambah kekayaan warna dan kepekaan musik. Instrumen musik baru sengaja dibuat dan juga dihadirkan untuk menunjang kebutuhan teatrikal dan musikal. Alat-alat lain yang mempunyai potensi menimbulkan bunyi juga dibutuhkan. Puluhan alat musik dan sumber bunyi telah ditemukan dan diberdayakan mulai dari riset, workshop, latihan, hingga pertunjukan.[9] Penggunaan alat-alat musik dan bunyi tersebut dilakukan secara lentur dan terbuka sebagai usaha kreatif sang direktur musik, komposer, serta para musisi untuk mengakomodasikan tujuan bersama tersebut.

Melalui berbagai penemuan alat musik baru disengaja untuk mendukung adegan teatrikal. Alat-alat musik baru untuk keperluan musik ILG diantaranya adalah Rebi, hasil ‘perkawinan’ antara rebab dengan biola yang berukuran besar dan kecil. Alat musik ini sangat berperan untuk adegan yang membutuhkan ketenangan dengan teknik drone. Rebi diberdayakan untuk menyertai tokoh I Lagaligo, terutama pada saat dialog dengan Sang Batara Guru. Warna suara rebi mirip suara cello meskipun wujud fisiknya seperti rebab dan biola yang bodyblock-nya (badan, resonator) dibuat dari rebana besar. Pencipta alat ini adalah musisi ILG yang bernama Anusirwan yang memiliki dasar musik Minangkabau, ia sendiri yang menyajikan alat tersebut pada pertunjukan ILG. Kebutuhan teatrikal menuntut berbagai bunyi yang tidak terwadahi oleh instrumen musik konvensional, untuk itu perlu ada alat-alat musik lain. Alat-alat musik non konvensional tersebut diberdayakan sehingga mempunyai nilai musikal untuk mendukung drama yang teatrikal. Adapun alat-alat ini dapat digunakan dari; mainan anak-anak (mirip suara burung), alat-alat dan bahan bangunan (gergaji, lepan, dan fiberglass), ataupun bekas tempat film.

ILG bukan semata ekspresi estetika seni (musik) semata, namun dapat dinilai sebagai buah pemikiran tentang kebudayaan. Estetika yang terpancar dari karya ILG adalah merupakan hasil riset dengan pendekatan ilmiah berbagai disiplin ilmu (sejarah, anthropologi, filologi, etnomusikologi, ikonografi, dan lain-lain) namun dengan prosedur-prosedur penciptaan seni yang mandiri.

Mencipta musik ILG yang berdurasi 3 jam adalah pekerjaan seni yang menantang. Sebagian besar ansambel musik di Sulawesi adalah menggunakan sedikit alat musik, hal ini menjadi kendala sekaligus titik tolak kreativitas. Maka pengarah musik tidak hanya mengandalkan bunyi-bunyi yang keluar dari tradisi musik asli, tetapi diperlukan kiat-kiat lain agar seluruh alat/sumber bunyi optimal. Hal ini membutuhkan kemampuan berkomposisi oleh sang pengarah musik. Musik ILG harus mampu menyediakan kebutuhan dramatik (sutradara). Salah satu konsep musik yang dikembangkan Supanggah dalam ILG adalah “musik berlapis”.

Konsep musik berlapis (layer) diacu dari tradisi gamelan Jawa Tengah, meskipun tidak terlihat keJawaan-nya secara kasat telinga. Bentuk ini terdapat pada bagian prolog yang berdurasi 10 menit. Musik secara intensif membangun citra seperti embun pagi di dunia antah berantah, sebuah musik yang berstruktur piramida dari lembut-meningkat-puncak-menuju keheningan kembali. Musik prolog didukung oleh bunyi-bunyi alat musik gesek, tiup, lalu perkusi yang dimainkan secara berlapis baik jumlah maupun volume ataupun permainannya. Konsep musik berlapis ini juga diterapkan untuk membangun gradasi musik menuju kegaduhan dan ketidakberatuan seperti pada adegan munculnya tokoh ILG pertama dan terakhir kali. Konsep ini baru digunakan kali pertama pada musik ILG.

Supanggah juga menggunakan konsep musik arahan ‘Bob’ Sang sutradara, yang diistilahkan sebagai “musik Mickey Mouse”. Konsep ini selalu membungkus tokoh dan adegan, terlihat wadag dan mungkin dangkal. Suatu contoh ketika adegan tokoh Sawerigading melepas selendang, ataupun berjalan meloncat. Gerakan tokoh ini harus sesuai dengan bunyi alat musik yang menyertainya. Mungkin penikmat merasa musik adegan seperti ini sebagai musik komedi (Jawa: gecul), terserah hayatan masing-masing, kenyataannya justru banyak musik seperti ini menjadi kunci yang kuat untuk menyatukan seluruh gerakan para aktor ataupun penari-penarinya.

Seperti telah disinggung di atas bahwa terdapat instrumen musik yang harus menyertai seorang tokoh apabila ia muncul di panggung. Seperti misalnya: kemunculan tokoh Batara Guru selalu disertai tingkahan bunyi kendang Bali. Mengapa demikian? Hal ini bukan masalah cocok atau ketidakcocokan, tetapi tafsir pengarah musik dan penikmat adalah yang maha menentukan. Kalau boleh menganalisa: aktor Batara Guru diperankan oleh seniman Bali (I Ketut Rina), mungkin juga harus didukung musik (bunyi instrumen musik) sekultur. Pemilihan bunyi musik bukan menonjolkan budaya musiknya (Bali), tetapi musisi diberikan kebebasan berekspresi dalam konteks berkolaborasi. Konsep musik seperti ini pernah digunakan Supanggah dalam garapan musik teater-nya yang lain, “King Lear” (teater Works Singapore, sutradara Ong Ken Shen, tahun 1997). Maksud dari konsep ini adalah menegaskan musik sebagai sarana pengungkapan memori (juga citra) terhadap suatu tokoh. Konkretnya adalah: musik memberikan penjelasan tentang ketokohan seorang aktor, hal ini merupakan kiat pengarah musik untuk mengembalikan memori serta mempermudah penghayatan bagi penonton (penghayat).

Panggung Dunia

Kekuatan karya dan manajemen yang bagus membuat projek ILG diminati banyak festival di seluruh dunia. Di dalam projek ILG melibatkan seniman-seniman kaliber internasional yang turut mendongkrak kualitas dan prestise karya tersebut. Hal ini dibuktikan dengan berbagai komentar para kritikus ternama di negeri-negeri tempat pentas ILG yang ditulis oleh media koran, majalah, atau media lain yang bergengsi. Rata-rata mereka memuji karya ini sebagai salah satu masterpiece Robert Wilson. Melbourne International Arts Festival mengukuhkan pertunjukan ILG sebagai penampil yang terbaik dalam sejarah keberadaan festival tersebut. ILG juga merupakan karya terbaik yang dipilih Wilson (dan kurator festival) untuk memenuhi undangan panitia Taipe International Festival. Begitu banyak event panggung dunia yang telah dijalani ILG, diantaranya adalah; Singapore tanggal 12-13 Maret tahun 2004 di Esplanade-theatres on The Bay (premiere); Tur Eropa Mei-Juni tahun 2004: Amsterdam, Netherland (Het muziek theater); Barcelona, Spain (Forum Universal de Les Cultures, Teatro Lliure); Madrid, Spain (Teatro Español); Lyon, France (Les Nuits de Fourvière Rhone); Ravena, Italy (Ravena Festival, teatro Alighieri); New York, USA (Lincoln Centre Festival, tahun 2005); Jakarta, Indonesia (Teater Tanah Air, tahun 2005); Melbourne, Australia (Melbourne International Arts Festival, tahun 2007, di Victoria Art centre); Milano, Italy (Teatro de Archimboldi, tahun 2008); dan Taipe, Taiwan (Taipe International Arts Festival tahun 2008).[10]Mungkin masih banyak festival di dunia yang antri mengundang ILG di tahun mendatang.

Karya seni yang bermutu tinggi selayaknya mendapat tempat di ajang (festival) bergengsi. ILG juga punya andil meninggikan derajat bangsa Indonesia (pada umumnya) di mata dunia, tak terkecuali insan-insan seni yang bekerja di dalamnya. Mereka pantas meraih martabat yang tinggi dari hasil kerja kerasnya  secara profesional di bidang seni budaya.

KEPUSTAKAAN

Halilintar Lathief

2004    Bissu: Pergulatan dan Peranannya di Masyarakat Bugis. Depok: Desantara.

Koolhof, Sirtjo dan Roger Tol (Ed.)

1995        “NBG 188” oleh Arung Pancana Toa, transkrip dan terjemahan

Muhammad Salim dan Fahruddin Ambo Enre dibantu Nurhayati Rahman, vol. I. Lembaga Penelitian Universitas Hasanudin, Makasar dan Koninklijk Instituut voo Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV) Leiden.

2000    “NBG 188” oleh Arung Pancana Toa, transkrip dan terjemahan

Muhammad Salim dan Fahruddin Ambo Enre dibantu Nurhayati Rahman, vol. II. Lembaga Penelitian Universitas Hasanudin, Makasar dan Koninklijk Instituut voo Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV) Leiden.

Mack, Dieter.

1995    Sejarah Musik Jilid IV.Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

Muhammad Salim

2005    “Panduan 5 Menit Menuju I La Galigo”, makalah Seminar Sureq I La Galigo di Hotel Hilton Jakarta 10 Desember 2005.

Raffles, Thomas

1978 History of Java with an Introduction by John Bastin Vol 2. Kualalumpur: Oxford University Press

Rahayu Supanggah

2001    “Kolaborasi: Kisah Sebuah Pengalaman”, dalam jurnal Kêtêg volume 1 no. 1 Nopember 2001

2002        Bothèkan Karawitan I. Jakarta: Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia.

2007        “Ketika Seorang Seniman Beretnomusikologi”, makalah Simposium Nasional Pengembangan Ilmu Budaya: Membumikan Etnomusikologi Indonesia. ISI Surakarta 2007

2007    Bothèkan Karawitan II: Garap. Surakarta: ISI Surakarta

Yusi A. Pareanom

2005    “I Lagaligo”, buku pementasan Robert Wilson di Teater Tanah Air Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tanggal 10-12 Desember 2005.

NARASUMBER

Abdi Bashit (51). Musisi I LAGALIGO dari Sulawesi Selatan.

Darsono (29). Musisi I Lagaligo, seniman karawitan dari Surakarta

Hamrin Samad (35). Musisi I Lagaligo dari Selayar Sulawesi Selatan, Dosen Universitas Negeri Makasar.

Rahayu Supanggah, (59). Komposer dan Pengarah Musik teater I Lagaligo, tinggal di Surakarta.

Rhoda Grauer (usia tidak diketahui). Sutradara film, produser, penulis  teks adaptasi dan dramaturgi I Lagaligo, tinggal di Bali dan New York.

Solihing (40). Musisi I Lagaligo. Dosen Program Studi Musik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makasar.

Zamraful Fitria (30). Musisi I Lagaligo, penyanyi dan penari tradisional Sulawesi Selatan.

REKAMAN

Rahayu Supanggah

2003        Lagaligo, CD Audio Volume I, studio 19 ISI Surakarta.

2003    Lagaligo, CD Audio Volume II, studio 19 ISI Surakarta.

2005    Sedap Malam, CD Audio, Studio 19 ISI Surakarta.

Danis Sugiyanto dan Iwan Budi Santosa

2008        Dokumen wawancara pribadi dengan Rahayu Supanggah, WAV dan MP3.

Sri Joko Raharjo

2005    Dokumen wawancara pribadi dengan Rahayu Supanggah, Kaset pita.


[1] Kitab syair kepahlawanan masyarakat Bugis kuno.

[2] Odyssey adalah pahlawan Athena (dikenal nama lain: Ulisses), merupakan kisah para dewa bangsa Yunani kuno. Homerus atau Homer juga mempunyai karya yang berjudul Illiad.

[3] Upacara tradisional yang dijadikan ide untuk adegan-adegan pertunjukan ILG diantaranya adalah: upacara pembacaan sureq ILG, penebangan pohon keramat (Welenreng) oleh bissu, prosesi lamaran pengantin, serta (symbol) perkawinan (antara dunia atas dengan bawah).

[4] Periksa “Panduan 5 Menit Menuju I La Galigo”, makalah Seminar Sureq I La Galigo oleh Muhammad Salim di Hotel Hilton Jakarta 10 Desember 2005.

[5] Bahasa Bugis kuno campur Sansekerta, disebut juga bahasa Torilangi (bahasa Indonesia: langit)

[6] Pendeta transeksual Bugis

[7]Menurut buku pementasan Robert Wilson I Lagaligo di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah Jakarta tanggal 10-12 Desember 2005, h. 11-13

[8]La Galigo menurut naskah NBG 188 oleh Arung Pancana Toa, transkrip dan terjemahan Muhammad Salim dan Fahruddin Ambo Enre dibantu Nurhayati Rahman, disunting oleh Sirtjo Koolhof dan Roger Tol, vol. I, 1995; vol. II, 2000, Lembaga Penelitian Universitas Hasanudin, Makasar dan Koninklijk Instituut voo Taal, Land-en Volkenkunde (KITLV) Leiden.

[9] Menurut Supanggah berjumlah lebih dari 70-an alat musik dan sumber bunyi, keterangan dalam workshop musik ILG di Red House Taipe, 9 Agustus 2008.

[10] Data pentas premier dan tur Eropa ILG tahun 2004 dari Sdr. Darsono yang dikirim lewat email.


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in